Senin, 01 Januari 2018

Namun, Apakah Kita Siap? #KATAUNJ11

72 Tahun sudah Indonesia merdeka. Namun, apakah kita merasakan apa arti ‘kemerdekaan’ itu?. Sejarah mencatat Indonesia melepaskan kekangan dari penjajahan dengan memerdekakan diri sendiri saat itu. Namun kini, apakah kita masih merasakan kemandirian dari perjuangan tak kenal belah kasih itu?. 89 tahun yang lalu para pendahulu kita bersumpah bahwa Bangsa Indonesia satu. Namun sekarang, apakah kita masih terasa ‘satu’?

Sungguh miris ketika kita menengok kebelakang melihat perjuangan para pahlawan Bangsa yang berkorban apapun demi Bangsa, namun apakah kita sadar saat ini kita malah berkorban demi apapun meskipun Bangsa yang dikorbankan. Terlalu ironis ketika tanah yang diperjuangkan secara bersama-sama untuk kemaslahatan Bangsa, namun kini tanah yang diperjuangkan ternyata ‘masih’ bukan milik kita. Menyedihkan memang ketika semangat yang dahulu digunakan sebagai bahan bakar pemersatu Bangsa, namun sekarang semangat itu digunakan untuk memecah belah Bangsa.
           
Apakah kita masih bisa tertawa ketika kita menyadari bahwa saat ini setiap tawa kita menzalimi setiap tetes darah pendahulu kita?. Masih bisa ternyenyak meski sadar sudah mendustakan sumpah para pendiri Bangsa?. Menyia-nyiakan setiap nyawa yang dikorbankan demi hari ini?. Apakah masih mau berusaha menutup mata meski realita pedih ada didepan kita?. Menutup telinga meski jeritan kenyataan menggelora disekitar kita?. Menutup hidung meski bau-bau kebusukan penoda kesatuan Bangsa hadir didepan batang hidung kita?. Apakah kita mau tetap diam saja dengan kondisi seperti itu? Apakah kita sudah tidak punya hati untuk tergerak? Apakah hati juga kita ‘gadaikan’ seperti Bangsa saat ini?

Ada dua pilihan saat ini. Hanya diam dan menerima ‘seperti’ orang bodoh atau memilih melawan karena tahu kita bodoh. Atau malah menjadi orang bodoh dengan menambah satu pilihan lain yaitu masa bodoh saja pura pura jadi orang bodoh. Namun, apakah kita siap untuk itu? Memilih antara diam, melawan atau menetapkan diri menjadi simbol kebodohan itu.  Selalu ada pilihan-pilihan lainnya, selalu ada alasan dan alibi yang bisa dipilih untuk menyangkalnya. Namun, apakah kita siap untuk apa yang kita pilih?. Pilihlah, untuk dirimu? atau untuk Bangsamu?


Iqbal Syafputra
Pendidikan Teknik Elektro

2015

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

Talk to us

Badan Penyelenggara Radio Siaran Educational Radio

Address:

Universitas Negeri JakartaGedung G Lantai 1 Ruang 1

Work Time:

Monday - Friday from 10am to 5pm

Phone:

0896-1006-1078